• Hubungi Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
Jumat, Oktober 9, 2026
Bacajambi.id
  • Login
  • RAGAM
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • KESEHATAN
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • SELEBRITIS
  • HUKRIM
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • RAGAM
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • KESEHATAN
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • SELEBRITIS
  • HUKRIM
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
No Result
View All Result
Bacajambi.id
k

Ketika Air Masih Jadi Halaman Belakang, Kota Air Indonesia Terus Tertinggal

R3daksi by R3daksi
7 Mei 2026
in OPINI
0
Ketika Air Masih Jadi Halaman Belakang, Kota Air Indonesia Terus Tertinggal

Oleh: Abdullah Rasyid – Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN, sedang menjalani studi strategis di Shanghai

Di Shanghai, tepatnya di kota air Zhujiajiao, air bukan hanya latar belakang. Ia adalah ”halaman depan“ kota: jernih, teratur, dan dipelihara dengan cermat, dihiasi jembatan kuno, perahu kayu, taman kota, dan jalan pejalan kaki yang lebar. Di sana, sungai tidak diperlakukan sebagai saluran pembuangan atau batas kampung, tetapi sebagai ruang publik yang menjadi pusat aktivitas wisata, ekonomi, dan identitas kota. Zhujiajiao adalah contoh nyata bagaimana air dijadikan wajah kota, bukan sekadar sisa ruang.

READ ALSO

Negara yang Mampu Menjelaskan Diri

Dari Kesepakatan ke Hasil: Mewujudkan Kinerja Kementerian Imipas yang Berkualitas dan Berintegritas

Di Indonesia, kenyataannya sangat berbeda. Di banyak kota, air, sungai, pantai, dan danau, masih dianggap “halaman belakang”. Ia diposisikan sebagai kolong, batas kampung, atau area yang boleh diisi dengan parkir, bengkel, dan kafe yang menghadap ke belakang.

Sungai sering dipenuhi sampah, sempadan direbut bangunan liar, dan kawasan pesisir banyak dijadikan tempat pembuangan limbah, bukan ruang terbuka hijau yang dinikmati warga. Secara penataan ruang, ini bukan sekadar kelalaian estetika, melainkan kesalahan paradigma: air dianggap sisa ruang, bukan ruang strategis.

Perbedaan mendasar ini terlihat jelas di Cina dan beberapa kota di Asia Tenggara serta Asia Timur. Di kota‑kota besar, sungai dan danau dirancang sebagai “halaman depan” kota: taman panjang, jalan pejalan kaki, jembatan, dermaga wisata, dan kafe yang menghadap ke air.

Program kota spons (*sponge city*) dan konsep *waterfront* bahkan sengaja menempatkan air sebagai bagian integral dari ruang publik, sekaligus perlindungan terhadap banjir dan manajemen air hujan. Di tempat lain, seperti Hanoi, Bangkok, dan Ho Chi Minh City, sungai kota dirancang untuk menjadi tulang punggung kawasan ekonomi dan wisata, bukan hanya jalur transportasi dan pembuangan.

Di Indonesia, paradigma ini masih terbalik. Sungai, pantai, dan danau banyak diperlakukan sebagai “halaman belakang”: area yang dibuang pandangan, tidak dirancang secara cermat, justru dijajah oleh aktivitas kumuh. Padahal, Indonesia adalah negara dengan 70% wilayah perairan, dengan banyak sungai, danau dan pantai.

Seharusnya, air adalah jiwanya kota-kota pesisir dan sungai, bukan sekadar batas administratif. Di Banjarmasin, Sungai Martapura bisa jadi kawasan *waterfront* yang menawan, bukan hanya tempat lewat kapal dan pasar terapung yang kumuh. Di kota-kota tepi danau, seperti Maninjau, Toba, atau pantai di Makassar, Padang, dan Ambon, air bisa jadi ruang publik yang terbuka, hijau, dan menghidupkan ekonomi warga, bukan hanya latar belakang industri dan permukiman.

Zhujiajiao mengajarkan satu hal penting: air bukan hanya soal fungsi teknis, tapi juga fungsi sosial, ekonomi, dan identitas kota. Di kota itu, air dipelihara dengan peraturan tegas, pengawasan, dan keterlibatan warga, sehingga kawasan kota air menjadi bersih, estetis, dan nyaman. Di sini, kota air tidak hanya menjual pemandangan, tetapi juga menjual kenyamanan, kebersihan, dan kualitas hidup. Di Indonesia, paradigma ini masih belum sepenuhnya diadopsi. Kebijakan kota masih lebih banyak berfokus pada bangunan, jalan, dan infrastruktur, sementara ruang air dibiarkan mengalir tanpa penataan strategis.

Sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan, saya melihat: perubahan paradigma penataan ruang adalah kunci. Indonesia perlu berani menata ulang kota-kotanya agar air, sungai, pantai, dan danau, bukan lagi halaman belakang yang kumuh, tetapi jantung kota yang hidup, bersih, dan bernilai tinggi.

Perlu perubahan norma: dari “air sebagai halaman belakang” menjadi “air sebagai halaman depan” kota, melalui peraturan, zonasi, dan insentif yang memaksa bangunan menghadap ke air, bukan membelakanginya. Perlu konsep riverfront – waterfront yang terstruktur di kota-kota sungai dan pesisir, di mana kawasan sempadan sungai dirancang sebagai taman, jalan pejalan kaki, dan aktivitas ekonomi yang memelihara air, bukan mencemarkannya.

Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negeri kota air yang unik. Namun, jika air terus diperlakukan sebagai halaman belakang, kota air Indonesia hanya akan menjadi kumuh, banjir, dan tertinggal. Di saat kota-kota di Cina dan Asia Timur menjadikan air sebagai wajah kota, Indonesia harus berani berubah: menjadikan air sebagai jantung kota, bukan sekadar batas kampung. Dengan pendekatan seperti Zhujiajiao, air yang bersih, teratur, dan terintegrasi, Indonesia bisa menciptakan kota air yang unik, keren, dan berkelanjutan.

Related Posts

Negara yang Mampu Menjelaskan Diri
OPINI

Negara yang Mampu Menjelaskan Diri

Dari Kesepakatan ke Hasil: Mewujudkan Kinerja Kementerian Imipas yang Berkualitas dan Berintegritas
OPINI

Dari Kesepakatan ke Hasil: Mewujudkan Kinerja Kementerian Imipas yang Berkualitas dan Berintegritas

Mengadili Penyimpangan, Membenahi Pemasyarakatan
OPINI

Mengadili Penyimpangan, Membenahi Pemasyarakatan

Dari Jeruji ke Reintegrasi Sosial: Menagih Janji KUHP Baru pada Bapas dan Pembimbing Kemasyarakatan
OPINI

Dari Jeruji ke Reintegrasi Sosial: Menagih Janji KUHP Baru pada Bapas dan Pembimbing Kemasyarakatan

Dari Evaluasi Menuju Aksi: Mengubah Rakor Menjadi Mesin Perbaikan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan
OPINI

Dari Evaluasi Menuju Aksi: Mengubah Rakor Menjadi Mesin Perbaikan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan

“Pintu Dipercepat, Pengawasan Diperketat”
OPINI

“Pintu Dipercepat, Pengawasan Diperketat”

Next Post
Rakernas ADPMET 2026 Dibuka, Al Haris Dorong Keadilan Fiskal dan Kilang Mini Migas

Rakernas ADPMET 2026 Dibuka, Al Haris Dorong Keadilan Fiskal dan Kilang Mini Migas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

No Content Available
Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed

EDITOR'S PICK

Presiden Prabowo Lantik Dua Menteri dan Tiga Wakil Menteri Kabinet Merah Putih 

Presiden Prabowo Lantik Dua Menteri dan Tiga Wakil Menteri Kabinet Merah Putih 

Dukung Ranperda Strategis, Wabup Katamso Tegaskan Komitmen Bangun SDM dan Ketahanan Pangan Tanjab Barat

Dukung Ranperda Strategis, Wabup Katamso Tegaskan Komitmen Bangun SDM dan Ketahanan Pangan Tanjab Barat

KPK Tetapkan 5 Orang Sebagai Tersangka Terkait Kasus Korupsi Dana PEN dan PBJ Kabupaten Situbondo

KPK Tetapkan 5 Orang Sebagai Tersangka Terkait Kasus Korupsi Dana PEN dan PBJ Kabupaten Situbondo

252 Peserta Lulus Seleksi CPNS Tenaga Tehnis Kabupaten Merangin 2024, Masa sanggah sampai 15 Januari 2025

252 Peserta Lulus Seleksi CPNS Tenaga Tehnis Kabupaten Merangin 2024, Masa sanggah sampai 15 Januari 2025

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pasang Iklan

© 2023 BacaJambi.ID

No Result
View All Result
  • RAGAM
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • KESEHATAN
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • SELEBRITIS
  • HUKRIM
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN

© 2023 BacaJambi.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In