• Hubungi Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
Kamis, Mei 7, 2026
Bacajambi.id
  • Login
  • RAGAM
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • KESEHATAN
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • SELEBRITIS
  • HUKRIM
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • RAGAM
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • KESEHATAN
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • SELEBRITIS
  • HUKRIM
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
No Result
View All Result
Bacajambi.id

Ketika Air Masih Jadi Halaman Belakang, Kota Air Indonesia Terus Tertinggal

Baca Jambi by Baca Jambi
7 Mei 2026
in OPINI
0
Ketika Air Masih Jadi Halaman Belakang, Kota Air Indonesia Terus Tertinggal

Oleh: Abdullah Rasyid – Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN, sedang menjalani studi strategis di Shanghai

Di Shanghai, tepatnya di kota air Zhujiajiao, air bukan hanya latar belakang. Ia adalah ”halaman depan“ kota: jernih, teratur, dan dipelihara dengan cermat, dihiasi jembatan kuno, perahu kayu, taman kota, dan jalan pejalan kaki yang lebar. Di sana, sungai tidak diperlakukan sebagai saluran pembuangan atau batas kampung, tetapi sebagai ruang publik yang menjadi pusat aktivitas wisata, ekonomi, dan identitas kota. Zhujiajiao adalah contoh nyata bagaimana air dijadikan wajah kota, bukan sekadar sisa ruang.

READ ALSO

Belajar dari China, Pariwisata Indonesia Butuh Ekosistem, Bukan Hanya Bebas Visa

INKOPASINDO dan KDMP, Jalan Merah Putih Ekonomi Rakyat

Di Indonesia, kenyataannya sangat berbeda. Di banyak kota, air, sungai, pantai, dan danau, masih dianggap “halaman belakang”. Ia diposisikan sebagai kolong, batas kampung, atau area yang boleh diisi dengan parkir, bengkel, dan kafe yang menghadap ke belakang.

Sungai sering dipenuhi sampah, sempadan direbut bangunan liar, dan kawasan pesisir banyak dijadikan tempat pembuangan limbah, bukan ruang terbuka hijau yang dinikmati warga. Secara penataan ruang, ini bukan sekadar kelalaian estetika, melainkan kesalahan paradigma: air dianggap sisa ruang, bukan ruang strategis.

Perbedaan mendasar ini terlihat jelas di Cina dan beberapa kota di Asia Tenggara serta Asia Timur. Di kota‑kota besar, sungai dan danau dirancang sebagai “halaman depan” kota: taman panjang, jalan pejalan kaki, jembatan, dermaga wisata, dan kafe yang menghadap ke air.

Program kota spons (*sponge city*) dan konsep *waterfront* bahkan sengaja menempatkan air sebagai bagian integral dari ruang publik, sekaligus perlindungan terhadap banjir dan manajemen air hujan. Di tempat lain, seperti Hanoi, Bangkok, dan Ho Chi Minh City, sungai kota dirancang untuk menjadi tulang punggung kawasan ekonomi dan wisata, bukan hanya jalur transportasi dan pembuangan.

Di Indonesia, paradigma ini masih terbalik. Sungai, pantai, dan danau banyak diperlakukan sebagai “halaman belakang”: area yang dibuang pandangan, tidak dirancang secara cermat, justru dijajah oleh aktivitas kumuh. Padahal, Indonesia adalah negara dengan 70% wilayah perairan, dengan banyak sungai, danau dan pantai.

Seharusnya, air adalah jiwanya kota-kota pesisir dan sungai, bukan sekadar batas administratif. Di Banjarmasin, Sungai Martapura bisa jadi kawasan *waterfront* yang menawan, bukan hanya tempat lewat kapal dan pasar terapung yang kumuh. Di kota-kota tepi danau, seperti Maninjau, Toba, atau pantai di Makassar, Padang, dan Ambon, air bisa jadi ruang publik yang terbuka, hijau, dan menghidupkan ekonomi warga, bukan hanya latar belakang industri dan permukiman.

Zhujiajiao mengajarkan satu hal penting: air bukan hanya soal fungsi teknis, tapi juga fungsi sosial, ekonomi, dan identitas kota. Di kota itu, air dipelihara dengan peraturan tegas, pengawasan, dan keterlibatan warga, sehingga kawasan kota air menjadi bersih, estetis, dan nyaman. Di sini, kota air tidak hanya menjual pemandangan, tetapi juga menjual kenyamanan, kebersihan, dan kualitas hidup. Di Indonesia, paradigma ini masih belum sepenuhnya diadopsi. Kebijakan kota masih lebih banyak berfokus pada bangunan, jalan, dan infrastruktur, sementara ruang air dibiarkan mengalir tanpa penataan strategis.

Sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan, saya melihat: perubahan paradigma penataan ruang adalah kunci. Indonesia perlu berani menata ulang kota-kotanya agar air, sungai, pantai, dan danau, bukan lagi halaman belakang yang kumuh, tetapi jantung kota yang hidup, bersih, dan bernilai tinggi.

Perlu perubahan norma: dari “air sebagai halaman belakang” menjadi “air sebagai halaman depan” kota, melalui peraturan, zonasi, dan insentif yang memaksa bangunan menghadap ke air, bukan membelakanginya. Perlu konsep riverfront – waterfront yang terstruktur di kota-kota sungai dan pesisir, di mana kawasan sempadan sungai dirancang sebagai taman, jalan pejalan kaki, dan aktivitas ekonomi yang memelihara air, bukan mencemarkannya.

Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negeri kota air yang unik. Namun, jika air terus diperlakukan sebagai halaman belakang, kota air Indonesia hanya akan menjadi kumuh, banjir, dan tertinggal. Di saat kota-kota di Cina dan Asia Timur menjadikan air sebagai wajah kota, Indonesia harus berani berubah: menjadikan air sebagai jantung kota, bukan sekadar batas kampung. Dengan pendekatan seperti Zhujiajiao, air yang bersih, teratur, dan terintegrasi, Indonesia bisa menciptakan kota air yang unik, keren, dan berkelanjutan.

Related Posts

Belajar dari China, Pariwisata Indonesia Butuh Ekosistem, Bukan Hanya Bebas Visa
OPINI

Belajar dari China, Pariwisata Indonesia Butuh Ekosistem, Bukan Hanya Bebas Visa

INKOPASINDO dan KDMP, Jalan Merah Putih Ekonomi Rakyat
OPINI

INKOPASINDO dan KDMP, Jalan Merah Putih Ekonomi Rakyat

Stafsus Menteri Imipas: Isu 3 Juta Data Paspor Bocor Hoaks, Masyarakat Diminta Tetap Tenang
NASIONAL

Stafsus Menteri Imipas: Isu 3 Juta Data Paspor Bocor Hoaks, Masyarakat Diminta Tetap Tenang

Memanusiakan Manusia: Menjadikan Lapas sebagai “Laboratorium Peradaban”
OPINI

Memanusiakan Manusia: Menjadikan Lapas sebagai “Laboratorium Peradaban”

Menambal Celah di Tanah Suci: Orkestrasi Asta Cita Menjaga Marwah Bangsa
OPINI

Menambal Celah di Tanah Suci: Orkestrasi Asta Cita Menjaga Marwah Bangsa

Menjemput Pikiran, Menenun Kedaulatan: Strategi “Brain Gain” dalam Asta Cita
OPINI

Ironi Transportasi Publik: Menggugat Hak Hidup di Balik Tragedi Bekasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

No Content Available
Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed

EDITOR'S PICK

Ketua Komisi II DPRD Kota Jambi Soroti Sampah yang Berserakan di Setiap Titik

Ketua Komisi II DPRD Kota Jambi Soroti Sampah yang Berserakan di Setiap Titik

Pj Bupati Merangin Pantau Logistik Surat Suara Pemilu 2024 di KPU

Pj Bupati Merangin Pantau Logistik Surat Suara Pemilu 2024 di KPU

DPRD Kota Jambi Gelar Rapat Paripurna Penyempurnaan Hasil Evaluasi Ranperda Perubahan APBD Tahun 2024

DPRD Kota Jambi Gelar Rapat Paripurna Penyempurnaan Hasil Evaluasi Ranperda Perubahan APBD Tahun 2024

Kemendagri Dorong Pemda Segera Bentuk Perda Penyandang Disabilitas di Daerah 

Kemendagri Dorong Pemda Segera Bentuk Perda Penyandang Disabilitas di Daerah 

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pasang Iklan

© 2023 BacaJambi.ID

No Result
View All Result
  • RAGAM
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • KESEHATAN
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • SELEBRITIS
  • HUKRIM
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN

© 2023 BacaJambi.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In