• Hubungi Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
Jumat, Juni 5, 2026
Bacajambi.id
  • Login
  • RAGAM
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • KESEHATAN
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • SELEBRITIS
  • HUKRIM
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • RAGAM
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • KESEHATAN
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • SELEBRITIS
  • HUKRIM
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
No Result
View All Result
Bacajambi.id

Energi Bersih Bukan Sekadar Lingkungan, Tetapi Kedaulatan Baru Indonesia

Baca Jambi by Baca Jambi
5 Juni 2026
in OPINI
0
Energi Bersih Bukan Sekadar Lingkungan, Tetapi Kedaulatan Baru Indonesia

Oleh: Abdullah Rasyid

Penulis: Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN, Pendiri GREAT Institute dan Pengurus Pusat PII

READ ALSO

Bupati Angkat Martabat Ribuan Honorer, Kota Hidup, Stadion Tak Pernah Gelap

Kabid SMK Disdik Provinsi Jambi: Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H / 2026 M

Energi bersih terlalu sering dibicarakan semata sebagai isu lingkungan. Seolah-olah transisi energi hanya berkaitan dengan pengurangan emisi, pemasangan panel surya, pembangunan pembangkit hijau, atau pemenuhan tekanan dunia internasional.

Padahal bagi Indonesia, energi bersih jauh lebih besar dari itu.

Energi bersih adalah soal kedaulatan.

Pada abad ke-21, negara yang berdaulat bukan hanya negara yang memiliki tentara kuat, wilayah luas, atau sumber daya alam melimpah. Negara yang benar-benar berdaulat adalah negara yang mampu mengamankan energi, menguasai teknologi, menjaga daya saing industri, melindungi rakyat dari gejolak harga, dan tidak mudah ditekan oleh perubahan standar ekonomi global.

Dalam kerangka itulah energi bersih harus ditempatkan: bukan sebagai beban, melainkan strategi nasional.

Indonesia sebenarnya memiliki modal yang sangat besar. Potensi energi baru terbarukan Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 3.686 gigawatt (GW), meliputi energi surya, bayu, hidro, bioenergi, panas bumi, hingga energi laut.

Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia bukan negara miskin energi bersih.

Masalah utama kita bukan pada ketiadaan potensi, melainkan kemampuan mengubah potensi menjadi kapasitas nyata.

Di sinilah letak ironi Indonesia.

Potensi energi bersih mencapai ribuan GW, tetapi realisasi pemanfaatannya belum sebanding. Selama bertahun-tahun, bauran energi nasional masih didominasi energi fosil. Energi baru terbarukan memang terus tumbuh, tetapi belum menjadi tulang punggung utama sistem energi nasional.

Arah baru mulai terlihat dalam RUPTL PLN 2025–2034.

Pemerintah menetapkan tambahan kapasitas pembangkit dan sistem penyimpanan energi sebesar 69,5 GW. Dari jumlah tersebut, sekitar 52,9 GW atau 76 persen berasal dari energi baru terbarukan dan storage.

Rinciannya mencakup PLTS sebesar 17,1 GW, PLTA 11,7 GW, PLTB 7,2 GW, panas bumi 5,2 GW, bioenergi 0,9 GW, serta storage 10,3 GW.

Ini bukan angka kecil.

Jika dijalankan secara konsisten, RUPTL tersebut dapat menjadi titik balik transisi energi nasional.

Namun, energi bersih tidak boleh berhenti sebagai daftar proyek pembangkit. Energi bersih harus menjadi strategi kedaulatan ekonomi Indonesia.

Pertama, energi bersih penting untuk mengurangi kerentanan fiskal.

Selama ini APBN memikul beban besar demi menjaga harga energi tetap terjangkau bagi rakyat. Subsidi memang merupakan bentuk keberpihakan negara, terutama kepada kelompok rentan. Namun ketergantungan jangka panjang pada energi fosil membuat fiskal nasional sangat rentan terhadap harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, dan gejolak geopolitik global.

Ketika harga minyak naik, APBN tertekan.
Ketika rupiah melemah, biaya impor energi meningkat.
Ketika konflik global mengganggu pasokan, rakyat ikut merasakan dampaknya.

Karena itu, energi bersih bukan hanya urusan emisi, melainkan instrumen menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Kedua, energi bersih menentukan daya saing industri.

Dunia kini bergerak menuju standar ekonomi rendah karbon. Uni Eropa, melalui Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), mulai menerapkan rezim definitif sejak 1 Januari 2026 setelah masa transisi 2023–2025.

Artinya, produk industri masa depan tidak lagi dinilai hanya dari harga dan kualitas, tetapi juga dari jejak karbon produksinya.

Jika listrik industri Indonesia masih bergantung pada energi kotor, maka produk ekspor nasional berisiko menghadapi beban tambahan, tekanan reputasi, hingga hambatan pasar global.

Dalam bahasa sederhana:

Tanpa energi bersih, hilirisasi Indonesia bisa menjadi mahal di pasar dunia.

Ketiga, energi bersih berkaitan langsung dengan pengelolaan mineral kritis.

Indonesia merupakan pemain utama nikel dunia. Cadangan nikel Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 55 juta ton atau sekitar 42,3 persen cadangan global. Produksi nikel Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 2,2 juta ton atau setara 59 persen produksi dunia.

Ini adalah kekuatan besar.

Namun kekuatan tersebut dapat berubah menjadi paradoks apabila hilirisasi nikel masih ditopang energi kotor.

Dunia membutuhkan nikel untuk baterai, kendaraan listrik, penyimpanan energi, turbin angin, panel surya, hingga teknologi hidrogen hijau. Tetapi apabila proses produksinya menghasilkan emisi tinggi dan merusak lingkungan, Indonesia akan menghadapi kritik baru: menjual bahan baku transisi energi dengan cara yang belum sepenuhnya bersih.

Karena itu, hilirisasi Indonesia harus naik kelas menjadi hilirisasi hijau.

Nikel, baterai, baja, semen, pupuk, smelter, kawasan industri, hingga data center harus mulai diarahkan menggunakan energi rendah emisi.

Jika tidak, hilirisasi nasional akan mudah diserang sebagai dirty downstreaming.

Keempat, energi bersih merupakan instrumen geopolitik.

Sejak 2010, hampir 80 persen kenaikan kebutuhan energi Asia Tenggara masih dipenuhi energi fosil, terutama batu bara. Pada 2023, batu bara menghasilkan sekitar setengah listrik kawasan dan menyumbang sekitar 80 persen emisi sektor ketenagalistrikan.

Fakta ini menunjukkan bahwa Asia Tenggara, termasuk Indonesia, masih berada dalam jalur pembangunan yang sangat intensif karbon.

Di saat yang sama, investasi energi bersih global bergerak sangat cepat.

Negara yang mampu menyediakan listrik bersih, stabil, dan kompetitif akan menjadi tujuan utama industri masa depan. Data center, baterai, kendaraan listrik, manufaktur hijau, hingga rantai pasok global akan mencari lokasi yang tidak hanya murah, tetapi juga rendah karbon.

Indonesia tidak boleh sekadar menjadi pasar panel surya, baterai, turbin, atau kendaraan listrik asing.

Indonesia harus membangun ekosistem industri energi bersihnya sendiri: mulai dari manufaktur komponen, riset baterai, smart grid, storage, PLTS atap, panas bumi, bioenergi, green hydrogen, hingga pengolahan sampah menjadi energi.

Namun, kedaulatan energi bersih juga menuntut kejujuran.

Tidak semua yang disebut hijau benar-benar bersih. Tidak semua proyek transisi otomatis adil. Tidak semua investasi hijau bebas dari risiko rente.

Di sinilah tata kelola menjadi kunci.

Energi bersih harus dikawal dengan data, audit, transparansi, dan standar yang kredibel. Jika tidak, agenda hijau hanya akan berubah menjadi greenwashing: bungkusnya hijau, tetapi isinya tetap eksploitasi lama.

Negara harus memastikan bahwa transisi energi bukan sekadar proyek elite, melainkan perubahan struktural yang benar-benar menyentuh rakyat.

Desa harus memperoleh akses energi bersih untuk irigasi, cold storage, UMKM, pesantren, koperasi, dan pengolahan hasil pertanian.

Kota harus bergerak menuju transportasi publik bersih, pengelolaan sampah modern, PLTS atap, bangunan hemat energi, dan udara yang lebih sehat.

Industri harus mulai menghitung emisi. Pemerintah daerah harus menjadikan energi bersih sebagai agenda pembangunan, bukan sekadar slogan lingkungan.

Dengan demikian, energi bersih bukan hanya urusan kementerian teknis.

Energi bersih adalah agenda lintas sektor: energi, industri, perdagangan, keuangan, desa, pertanian, kelautan, pendidikan, riset, hingga diplomasi.

Narasi besarnya harus jelas:

Energi bersih bukan sekadar lingkungan, tetapi kedaulatan baru Indonesia.

Kedaulatan untuk tidak terus bergantung pada energi impor.

Kedaulatan untuk melindungi APBN dari gejolak harga fosil.

Kedaulatan untuk membangun industri yang diterima pasar global.

Kedaulatan untuk mengolah mineral kritis dengan standar tinggi.

Kedaulatan untuk menciptakan lapangan kerja hijau bagi generasi muda.

Kedaulatan untuk menjaga udara, air, tanah, dan laut sebagai hak rakyat.

Abad ke-20 dimenangkan oleh negara yang menguasai minyak dan batu bara.

Abad ke-21 akan dimenangkan oleh negara yang menguasai energi bersih, mineral kritis, teknologi baterai, data, karbon, dan industri hijau.

Indonesia memiliki seluruh modal awal: matahari, air, angin, panas bumi, laut, bioenergi, nikel, pasar besar, dan posisi geopolitik yang strategis.

Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian kebijakan, konsistensi regulasi, pembiayaan inovatif, tata kelola yang bersih, serta narasi nasional yang kuat.

Pada akhirnya, transisi energi bukan tentang meninggalkan pembangunan.

Justru sebaliknya, transisi energi adalah cara baru membangun Indonesia agar lebih kuat, lebih sehat, lebih kompetitif, dan lebih berdaulat.

Energi bersih bukan sekadar menyelamatkan bumi.

Energi bersih adalah cara menjaga republik.

Related Posts

Bupati Angkat Martabat Ribuan Honorer, Kota Hidup, Stadion Tak Pernah Gelap
OPINI

Bupati Angkat Martabat Ribuan Honorer, Kota Hidup, Stadion Tak Pernah Gelap

Kabid SMK Disdik Provinsi Jambi: Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H / 2026 M
PEMPROV JAMBI

Kabid SMK Disdik Provinsi Jambi: Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H / 2026 M

Visa Turis, Judi Online, dan Generasi yang Terancam: Alarm Kedaulatan Digital Indonesia
OPINI

Visa Turis, Judi Online, dan Generasi yang Terancam: Alarm Kedaulatan Digital Indonesia

Diaspora Indonesia dan Jalan Tengah Negara: Menjawab Polemik Keadilan Kebijakan Imigrasi dalam Perspektif Asta Cita Presiden Prabowo
OPINI

Diaspora Indonesia dan Jalan Tengah Negara: Menjawab Polemik Keadilan Kebijakan Imigrasi dalam Perspektif Asta Cita Presiden Prabowo

Meluruskan Data Pendidikan Jambi: Antara Fakta Statistik, Akuntabilitas Anggaran, dan Realitas Kebijakan
OPINI

Meluruskan Data Pendidikan Jambi: Antara Fakta Statistik, Akuntabilitas Anggaran, dan Realitas Kebijakan

Menjaga Marwah di Balik Jeruji: Catatan dari Kota Bumi
OPINI

Menjaga Marwah di Balik Jeruji: Catatan dari Kota Bumi

Next Post
Sikapi Gejolak Geopolitik Global, OJK Pastikan Fundamental dan Intermediasi Perbankan Tetap Terjaga

Kasus Penipuan Berkedok Investasi di Purwakarto, OJK Minta Korban Segera Melapor

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

No Content Available
Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed

EDITOR'S PICK

Bupati Fadhil Arief Resmikan Masjid Nurul Islam Kelurahan Terusan Kecamatan Maro Sebo Ilir

Bupati Fadhil Arief Resmikan Masjid Nurul Islam Kelurahan Terusan Kecamatan Maro Sebo Ilir

Jalan Jambi Siap Tempur Mudik Lebaran 2026: Dinas PUTR Gaspol Bersihkan Lubang dan Semak Belukar

Jalan Jambi Siap Tempur Mudik Lebaran 2026: Dinas PUTR Gaspol Bersihkan Lubang dan Semak Belukar

Pansel Seleksi JPT 10 Eselon Dua Kabupaten Merangin Umumkan Nama-Nama 3 Peserta Terbaik Berdasarkan Rangking Nilai

Pansel Seleksi JPT 10 Eselon Dua Kabupaten Merangin Umumkan Nama-Nama 3 Peserta Terbaik Berdasarkan Rangking Nilai

DPRD Batanghari Gelar Paripurna Penyampaian Nota Pengantar Rancangan Awal RPJMD Tahun 2025-2029

DPRD Batanghari Gelar Paripurna Penyampaian Nota Pengantar Rancangan Awal RPJMD Tahun 2025-2029

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pasang Iklan

© 2023 BacaJambi.ID

No Result
View All Result
  • RAGAM
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • KESEHATAN
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • SELEBRITIS
  • HUKRIM
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN

© 2023 BacaJambi.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In