Baca Jambi – Menanggapi protes warga Lorong Darmomulyo, RT 33, Kelurahan Simpang 3 Sipin, terkait dugaan limbah Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dibuang ke drainase.
Direktur PT Kocai Satu Rasa Mitra SPPG, Ade Ariyanti, menjelaskan bahwa air mengalir ke drainase bukan limbah dapur.
Air tersebut berasal dari cucian tangan tukang yang sedang perbaikan mess, terkena pelamir cat.
“Selama ini, SPPG memiliki sumur resapan untuk limbah dapur, sehingga tidak ada air keluar. Saat ini, kami sedang bangun mess. Tukang tidak sadar air keran cuci tangan terkena pelamir dan mengalir ke drainase. Itu penyebab air parit berwarna putih tanpa bau,” ujar Ade.
Pihak SPPG juga sudah memeriksa kondisi air di drainase tersebut.
Terkait keluhan truk gas bertonase besar yang diduga merusak jalan lingkungan, Ade menegaskan mobil itu belum masuk karena tidak mendapat izin RT.
“Selama 6 bulan operasi, kami selalu pakai mobil kecil dari Metro Gas. Beberapa hari lalu, mobil kecil rusak. Pemasok minta izin pakai mobil besar untuk kebutuhan masak, tapi RT tidak izinkan. Kami pun larang mereka masuk,” tambahnya.
Di awal operasi, pernah sekali Metro Gas kirim mobil besar, tapi sejak itu selalu mobil lansir kecil.
Sebelumnya, protes warga soal limbah dan truk gas memicu Badan Gizi Nasional (BGN) tutup sementara SPPG hari ini, hingga kesepahaman terbangun antarpihak.
“Kami sesali penutupan ini yang berdampak pada relawan dirumahkan dan penerima manfaat menunggu MBG,” tutup Ade.
SPPG memiliki 47 relawan, lebih dari 30% warga setempat. (Red)










