• Hubungi Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
Sabtu, Oktober 10, 2026
Bacajambi.id
  • Login
  • HOME
  • RAGAM
  • DAERAH
  • KESEHATAN
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • HUKRIM
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • HOME
  • RAGAM
  • DAERAH
  • KESEHATAN
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • HUKRIM
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
No Result
View All Result
Bacajambi.id
Iklan by Google

Ketika Sampah Mengapung di Surga Pahawang

R3daksi by R3daksi
25 Agustus 2026
in OPINI
Reading Time: 4 mins read
0
Ketika Sampah Mengapung di Surga Pahawang

Oleh: Abdullah Rasyid

Penulis: Pecinta Wisata Bahari

READ ALSO

Negara yang Mampu Menjelaskan Diri

Dari Kesepakatan ke Hasil: Mewujudkan Kinerja Kementerian Imipas yang Berkualitas dan Berintegritas

Minggu ini saya sengaja mengosongkan agenda untuk keluarga. Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Palembang dengan mobil pribadi. Keluarga dari Jambi juga datang. Jakarta dan Jambi bertemu di Palembang untuk satu momen yang sangat kami syukuri: wisuda anak kami dari Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.

Iklan by Google

Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Setelah kesibukan dan rutinitas masing-masing, ada kebahagiaan tersendiri ketika keluarga besar bisa kembali duduk dalam satu kendaraan, makan bersama, saling menggoda, lalu melanjutkan perjalanan tanpa terlalu diburu waktu. Dari Palembang, kami memutuskan menuju Lampung. Pilihannya jatuh pada Pulau Pahawang.

Saya sudah cukup sering mendengar cerita tentang Pahawang. Tetapi berada langsung di sana memberi kesan berbeda. Kami menginap di vila terapung. Anak, istri, dan ponakan-ponakan spontan mengatakan suasananya seperti Maladewa. Mungkin itu cara sederhana mereka menggambarkan laut yang membentang di depan kamar, air yang jernih, serta ketenangan yang sulit diperoleh di kota.

Kami kemudian berlayar ke Pulau Kelagian. Pasir putih, air bening, dan langit cerah seperti menyusun pemandangan yang nyaris sempurna. Perjalanan dilanjutkan ke beberapa titik snorkeling. Di bawah permukaan air, terumbu karang dan ikan-ikan kecil memperlihatkan kekayaan yang selama ini sering kita sebut dengan ringan sebagai “potensi bahari Indonesia”.

Di tempat seperti Pahawang, kalimat itu tidak terasa sebagai slogan. Kekayaan laut memang nyata.

Iklan by Google

Tetapi ada sesuatu yang mengganggu.

Dalam perjalanan dengan perahu kayu dari dermaga menuju pulau, juga ketika berpindah dari satu titik wisata ke titik lainnya, berkali-kali kami berpapasan dengan sampah yang mengapung di laut. Plastik, kemasan, dan berbagai sisa konsumsi manusia hadir di tengah bentang alam yang begitu indah.

Pemandangan itu membuat saya berpikir: jangan-jangan kita terlalu sibuk menjual keindahan Indonesia, tetapi kurang serius merawatnya.

Kita senang memberi julukan pada destinasi wisata: Maladewa-nya Indonesia, surga tersembunyi, atau berbagai sebutan lain yang terdengar eksotis. Julukan seperti itu bagus untuk promosi. Namun wisata bahari tidak bisa hidup hanya dari foto yang indah di media sosial. Ada syarat yang lebih mendasar: laut harus tetap sehat.

Sampah di laut bukan sekadar mengurangi keindahan foto wisatawan. Plastik dapat terurai menjadi mikroplastik, mencemari ekosistem, masuk ke rantai makanan, mengganggu biota laut, dan akhirnya kembali kepada manusia. Ketika terumbu karang rusak dan kualitas perairan menurun, yang kehilangan bukan hanya wisatawan. Nelayan, pemilik perahu, pemandu snorkeling, pengelola penginapan, warung kecil, dan masyarakat pesisir ikut menanggung akibatnya.

Karena itu saya semakin memahami mengapa Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat menempatkan pengelolaan sampah sebagai agenda penting. Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH bahkan menegaskan pengelolaan sampah dan partisipasi publik sebagai prioritas, sekaligus mendorong ekonomi sirkular dan tanggung jawab produsen terhadap sampah kemasan.

Apa yang saya lihat di Pahawang memperlihatkan bahwa agenda tersebut bukan urusan abstrak di ruang rapat Jakarta. Ia hadir di depan mata.

Namun membersihkan sampah yang sudah mengapung hanyalah ujung dari pekerjaan panjang. Persoalan sebenarnya berada di darat, di hulu sungai, di permukiman, di pasar, di kawasan wisata, di kapal, dan pada kebiasaan kita sendiri.

Ada dimensi tata kelola yang sering luput. Sampah laut tidak mengenal batas desa atau kabupaten. Sampah yang terlihat di satu teluk belum tentu berasal dari pulau di depannya. Ia dapat terbawa arus dari sungai, kawasan pesisir lain, kapal, atau aktivitas jauh dari lokasi wisata. Karena itu penanganannya tidak bisa dibebankan hanya kepada pengelola destinasi. Pemerintah kabupaten, provinsi, pengelola daerah aliran sungai, pelaku usaha, dan komunitas pesisir harus bekerja sebagai satu sistem.

Tidak masuk akal bila petugas kebersihan diminta terus memungut sampah sementara jutaan orang masih merasa biasa membuang kemasan begitu saja. Tidak cukup pula mengadakan aksi bersih pantai beberapa kali dalam setahun jika sistem pengumpulan, pemilahan, pengangkutan, dan pengolahan sampah tidak bekerja setiap hari.

Destinasi wisata bahari seperti Pahawang justru dapat menjadi laboratorium kecil tata kelola sampah Indonesia.

Setiap kapal wisata dapat diwajibkan membawa wadah sampah tertutup dan memastikan tidak satu pun sampah penumpang dibuang ke laut. Penginapan dan rumah makan mesti memilah sampah sejak sumbernya. Dermaga harus mempunyai fasilitas pengumpulan yang memadai. Pemerintah daerah dapat menetapkan standar kebersihan bagi operator wisata, disertai pengawasan dan sanksi yang benar-benar diterapkan.

Produsen juga tidak boleh terus berada di luar persoalan. Kemasan yang dijual sampai ke pulau-pulau terpencil pada akhirnya meninggalkan biaya lingkungan bagi masyarakat. Prinsip tanggung jawab produsen menjadi penting agar biaya membersihkan sampah tidak terus dibebankan kepada pemerintah daerah dan warga.

Pada sisi lain, wisatawan harus bersedia menerima satu prinsip sederhana: apa yang kita bawa ke pulau, terutama yang tidak mudah terurai, harus kita bawa kembali.

Pariwisata yang baik bukan hanya menghasilkan kunjungan. Ia harus meninggalkan destinasi dalam keadaan setidaknya sama baiknya dengan ketika wisatawan datang.

Pahawang memiliki modal yang sangat besar. Keindahan alamnya sudah tersedia tanpa perlu kita bangun. Terumbu karang, laut biru, pulau-pulau kecil, pasir putih, dan keramahan masyarakat adalah aset yang nilainya jauh melampaui tiket perjalanan. Justru karena alam telah memberikan begitu banyak, tugas manusia mestinya lebih sederhana: jangan merusaknya.

Perjalanan keluarga kali ini akhirnya meninggalkan dua kesan yang sama kuat.

Yang pertama adalah kebahagiaan pribadi. Melihat anak menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, berkumpul dengan keluarga dari Jakarta dan Jambi, lalu menikmati Pahawang bersama-sama adalah kenangan yang akan lama tersimpan.

Yang kedua adalah kegelisahan.

Saya pulang dengan keyakinan bahwa Indonesia sebenarnya tidak kekurangan destinasi kelas dunia. Yang kita perlukan adalah tata kelola kelas dunia.

Kita boleh bangga ketika wisatawan menyebut sebuah vila terapung di Pahawang terasa seperti Maladewa. Tetapi kebanggaan yang lebih besar adalah jika suatu hari mereka pulang dengan cerita bahwa laut Indonesia bukan hanya indah, melainkan juga bersih.

Sebab pada akhirnya, ukuran kecintaan kepada alam bukan seberapa sering kita memujinya.

Melainkan seberapa serius kita menjaganya.

Iklan by Google

Related Posts

Negara yang Mampu Menjelaskan Diri
OPINI

Negara yang Mampu Menjelaskan Diri

Dari Kesepakatan ke Hasil: Mewujudkan Kinerja Kementerian Imipas yang Berkualitas dan Berintegritas
OPINI

Dari Kesepakatan ke Hasil: Mewujudkan Kinerja Kementerian Imipas yang Berkualitas dan Berintegritas

Mengadili Penyimpangan, Membenahi Pemasyarakatan
OPINI

Mengadili Penyimpangan, Membenahi Pemasyarakatan

Dari Jeruji ke Reintegrasi Sosial: Menagih Janji KUHP Baru pada Bapas dan Pembimbing Kemasyarakatan
OPINI

Dari Jeruji ke Reintegrasi Sosial: Menagih Janji KUHP Baru pada Bapas dan Pembimbing Kemasyarakatan

Dari Evaluasi Menuju Aksi: Mengubah Rakor Menjadi Mesin Perbaikan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan
OPINI

Dari Evaluasi Menuju Aksi: Mengubah Rakor Menjadi Mesin Perbaikan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan

“Pintu Dipercepat, Pengawasan Diperketat”
OPINI

“Pintu Dipercepat, Pengawasan Diperketat”

Next Post
Meneladani Rasulullah dalam Gerakan Ekonomi Syariah

Meneladani Rasulullah dalam Gerakan Ekonomi Syariah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EDITOR'S PICK

Gubernur Al Haris Terima Audiensi Komisaris Utama PT Jasa Raharja

Gubernur Al Haris Terima Audiensi Komisaris Utama PT Jasa Raharja

Tahura Orang Kayo Hitam Terbakar, Satgas Karhutla Jambi Kerahkan Waterbombing dan Alat Berat

Tahura Orang Kayo Hitam Terbakar, Satgas Karhutla Jambi Kerahkan Waterbombing dan Alat Berat

Rahmad Hasrofi Sambut Kedatangan KPU Batanghari, Penyerahan Laporan Pilkada Serentak

Rahmad Hasrofi Sambut Kedatangan KPU Batanghari, Penyerahan Laporan Pilkada Serentak

Dorong Transportasi Publik yang Berkeselamatan, Jasa Raharja Lakukan Kunker ke Perum DAMRI Station Kemayoran

Dorong Transportasi Publik yang Berkeselamatan, Jasa Raharja Lakukan Kunker ke Perum DAMRI Station Kemayoran

Kepala BKN Minta Instansi Segera Tuntaskan Pengangkatan PPPK Penuh Waktu dan Usulan Kebutuhan PPPK Paruh Waktu 

Kepala BKN Minta Instansi Segera Tuntaskan Pengangkatan PPPK Penuh Waktu dan Usulan Kebutuhan PPPK Paruh Waktu 

Pansel JPT Pratama Seleksi Terbuka Jabatan Sekda Kabupaten Merangin 2025  Umumkan Hasil Seleksi Administrasi

Pansel JPT Pratama Seleksi Terbuka Jabatan Sekda Kabupaten Merangin 2025  Umumkan Hasil Seleksi Administrasi

Lantik Pimpinan BAZNAS Periode 2025-2030, Gubernur Al Haris Dorong Pengelolaan Zakat Yang Baik Untuk Kesejahteraan Masyarakat

Lantik Pimpinan BAZNAS Periode 2025-2030, Gubernur Al Haris Dorong Pengelolaan Zakat Yang Baik Untuk Kesejahteraan Masyarakat

Malam Takbiran Idul Fitri 1446 H di Kabupaten Merangin Meriah 

Malam Takbiran Idul Fitri 1446 H di Kabupaten Merangin Meriah 

Wamendagri Tegaskan Komitmen Kemendagri Dukung Pemeriksaan Kesehatan Gratis untuk Wujudkan Masyarakat Sehat

Wamendagri Tegaskan Komitmen Kemendagri Dukung Pemeriksaan Kesehatan Gratis untuk Wujudkan Masyarakat Sehat

Lindungi Masyarakat, OJK Terbitkan Aturan Tentang Penyampai Informasi Sektor Jasa Keuangan

Lindungi Masyarakat, OJK Terbitkan Aturan Tentang Penyampai Informasi Sektor Jasa Keuangan

  • Hubungi Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2023 BacaJambi.ID

No Result
View All Result
  • HOME
  • RAGAM
  • DAERAH
  • KESEHATAN
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • HUKRIM
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN

© 2023 BacaJambi.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In